Jumat, 12 Juli 2013

Disfungtional Family (Broken Family)

Disfungtional family atau broken home atau broken family. Kita semua pernah mendengar ketiga kata ini, saya ingin share hal ini menurut pandangan saya, seminar-seminar yang saya ikuti dan video dari Marshanda. 

Disfungtional family dapat diartikan sebagai: Hilangnya peran-peran orang tua dalam sebuah keluarga sehingga kebutuhan emosional dan psikologis anggota keluarga tidak dapat terpenuhi terutama anak.

Disfungtional family atau broken home ini tidak hanya dialami oleh keluarga yang bercerai saja, bisa saja keluarganya masih utuh hanya saja peran dari orangtua sebagai role model, tampat berbagi, orang yang memberikan kasih sayang, mengajarkan kehidupan tidak berfungsi dengan baik. Hal ini bisa terjadi karena hubungan yang tidak harmonis antara kedua orang tua, kesibukan yang tinggi dari orangtua,permasalahan ekonomi, tingkat intelektual atau emosionalitas dari orang tua yang kurang baik, jauh dari Tuhan dan alasan-alasan lain.

Ciri-ciri broken family:

  1. Emosi anggota keluarga sangat bergejolak dan fluktuatif, terkadang keluarga ini bisa nampak amat bahagia dan terkadang bisa bertengkar hebat atau mempunyai problem yang tidak pernah terselesaikan.
  2. Atmosfer kemarahan dan luka amat sangat kental pada masing-masing anggota keluarga dan biasanya anak tidak dapat mengambil tanggungjawab atas dirinya sendiri
  3. Diluar terlihat sangat SEMPURNA(segi karier, pendidikan, dll terlihat tercapai semua) namun ada arogansi tersendiri, ada banyak luka yang tidak terselesaikan dan berusaha ditutupi.
  4. Tidak ada suasana yang menyenangkan, ceria, playfull. Suasana nampak selalu tegang dan hal-hal buruk ditoleransi tanpa ada konsekuensi.
  5. Selalu "TERLIHAT" Kuat dan tanggung namun sebenarnya rapuh didalamnya. Kadang anak yang berada dalam lingkungan ini akan terlihat kuat namun juga bisa begitu terpuruk. Karena hanya kekuatan semu. Orang Yang Benar-Benar Kuat Mampu Berdamai Dengan Diri Sendiri, Tau Cara Mencintai Orang Lain Dan Mau Memaafkan Orang Lain, Serta Mampu Menghadapi Ujian Kehidpan Dengan Sabar.
  6. Aturan-aturan cenderung dilanggar. Biasanya orangtua cenderung menasihati namun tidak bisa melakukannya. Dan anaknya dituntut untuk "lakukan apa yang aku katakan, bukan  yang aku lakukan". Jadi anak hanya menerima perintah tanpa mendapat contoh yang baik dan benar.

Proses dalam broken family:

  1. Seorang anak akan mulai membuat COMPARASION atau PERBANDINGAN antara keluarga  lingkungan sekitarnya dengan lingkungan keluarga dirumahnya. Misalnya: Dia akan membandingkan keharmonisan keluarga temannya dengan lingkungan keluarganya sendiri
  2. WRONG GUIDANCE:  anak anak diusia emas (sekitar 0-10 tahun) sebaiknya diberikan POSITIF ROLE, POSITIF ATTITUDE dan hal-hal positif lainnya. Kalimat penolakan, negatif, melukai tidak baik bagi pembentukan karakter anak-anak diusia emas.
  3. ACTING OUT: melakukan hal berlebihan misalnya kenakalan remaja untuk mendapatkan perhatian dari orangtua. Biasanya hal ini terjadi karena TIDAK ada REWARD untuk HAL BAIK, hanya punishment untuk hal yang tidak baik. Disini dilihat bahwa orangtua hanya memberi perhatian pada hal-hal buruk, sehingga anak akan cenderung melakukan hal buruk untuk mendapat perhatian.
  4. VALUE CONFUSION (misalnya kita melakukan hal yang sama namun kita memperoleh hal yang berbeda) DAN TRAUMA

Pengaruh Broken Family pada anak
Broken family akan mempengaruhi perkembangan emosi, sosial, kepribadian dan spiritual anak. yang bisa juga dijelaskan dengan roles yang dipegang :

  1. HERO: anak-anak disini akan OVER RESPONSIBLE, jadi mereka menanggung tanggungjawab diluar kapasitas,merasa menjadi pahlawan dalam keluarganya, yang harus menyelesaikan masalah yang ada dalam keluarganya. dalam perkembangannya mereka cenderung berkepribadian Keras dan  Judgmental
  2. KAMBING HITAM : sering menjadi kambing hitam dalam masalah-masalah yang ada dikeluarga. Efeknya adalah pada PRESTASI AKADEMIK YANG MENURUN dan SELF DESTRUCTIVE
  3. DOER : terbebani dengan tangggungjawab yang ada sehingga terbebani karena tidak dihargai.  Efeknya adalah anak akan cenderung menutup diri pada lingkungan dan sedih bisa jadi depresi
  4. LAST CHILD : biasanya terjadi pada orang tua yang suka membanding-bandingkan anaknya. Dan anak ini tidak terlalu difavoritekan oleh orangtuanya. Efeknya adalah anak ini cenderung Tidak PercayaDiri, tidak memiliki emosi yang baik, kaku dengan lawan jenis, hidupnya datar 
  5. PRINCESS/LITTLE MAN : terjadi pada orangtua yan menjadikan anaknya sebagai emotional wife atau emotional husband karena kehilangan sosok suami pada istri atau sebaliknya.efeknya adalah  cenderung egois dan keras kepala, dan abusive kepada partnernya
  6. MASCOT : anak yang selalu menjadi penengah dalam berbagai konflik diantara anggota keluarga, dia akhirnya mengabaikan perasaannya sendiri. Efeknya adalah dia tidak bisa mencintai dirinya sendiri dan tidak bisa menerima cinta karena dia menganggap dialah yang terus memberi
  7. FAMILY PRIEST : anak yang tumbuh dalam keluarga yang menganggap seks itu tabu, tidak ada sex education untuk anak dengan porsi seusianya. Biasanya anak-anak seperti ini pada masa kecilnya terlihat baik, alim dan santun namun ketika dia mengenal dunia remaja dan pergaulan bebas dia akan sangat mudah terpengaruh. Karena dia menganggap agama sebagai ritualitas dan bukan spiritualitas.


Mengatasi Broken Family

  1. Berikan dukungan kepada anak untuk mengungkapkan perasaan mereka, dengarkan dengan baik tanpa kita harus terbawa perasaan
  2. Berikan pengertian bahwa perceraian ini bukan kesalahan mereka.
  3. Beri kesempatan pada anak untuk membicarakan mengenai perceraian dan bagaimana perceraian tersebut berpengaruh pada dirinya. Berikan jawaban yang baik
  4.  Dalam tumbuh kembang seorang anak, tatap dibutuhkan sebuah ROLE model yang baik bagi anak tentang peran ibu atau ayahnya. Maka kita bisa meminta bantuan terhadap saudara,sahabat atau pemuka agama terdekat agar anak tetap memperoleh contoh yang baik dari kedua peran(ayah dan ibu) tersebut     
  5.  IKHLAS

Untuk anak-anak pada usia dini, hal terbaik adalah jangan biarkan mereka melihat keburukan ayah dan ibunya, walaupun kedua belah pihak sedang berseteru, usahakan anak tetap memperoleh role yang baik dalam 2 peran ini. Perceraian itu lebih baik daripada anak harus hidup ditengah keluarga yang sudah tidak ada kehangatan didalamnya dan kata-kata kasar serta keras. Asalkan tetap ada orang yang mampu menggantikan peran ayah atau ibunya. Agar kelak si anak memiliki role model

Untuk ikhlas mungkin hanya bisa dipahami oleh anak yang sudah tumbuh dewasa. Tapi ini adalah kunci utama, Ketika kita dewasa, kita dapat dengan sadar MERUBAH DIRI KITA SENDIRI MENJADI LEBIH BAIK. Kita harus PAHAM bahwa OUR LIFE IS OUR RESPONSIBILITY.
Kehidupan Seperti Sebuah Sekolah, Ketika Kita Menghadapi Masalah Maka Kita Akan Belajar "Ikhlas" Dengan Begitu Kita Mampu Naik Kelas, Melupakan Dendam Dan Luka, Jika Tidak Kita Akan Tinggal Kelas Dan Tidak Akan Pernah Ada Perubahan Dari Diri Kita. Ikhlas Mengajarkan Kita Untuk Tidak Terus Menmbuat Kita Menyalahkan Orang Lain Atas Hal Buruk Yang Menimpa Kita, Namun Membuat Kita Fokus Terhadap Pemecahan Masalah. Cara Kita Menghadapi Kehidupan Membuat Kita Memiliki Label-Label Tersendiri Apakah Kita Orang Yang Kuat, Lemah, Baik, Atau Buruk, Sabar Atau Tidak, Dll. Ingat Tuhan Tidak Pernah Salah Memilihkan Peran Dan Skenario Hidup Bagi Seseorang :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar