Rabu, 30 Maret 2016

WHY NATIONS FAIL-SUMMARY

In the course of 3 months in 2016, I have read 4 books to keep me cultured. I would like to summarize one of my book that I read. My friend had recommended me this book, when i was a college student. Why Nations Fail by Daron Acemoglu and James Robinson is brilliant and engagingly written. This book answers the question that has stumped the experts for centuries about why are some nations poor and others rich divided by wealth and poverty, health and sickness food and famine 

Acemoglu and Robinson made a hypotheses answering the question about world inequality. Is it geography, culture, weather or the ignorance of its citizens? Simply, No. none of these factors is either definitive or destiny but extractive economic institutions does. There is strong synergy between economic and political institution. Extractive political institutions concentrate power in the hands of a narrow elite and place few constraints on the exercise of this power. Economic institutions are then often structured by this elite to extract resources from the rest of society. Extractive economic institution thus naturally accompany extractive political institutions.

To answer the big questions of today, Acemoglu and Robinson marshal historical evidence from Latin America, England, Europe, the United States, Africa, the Roman Empire, the Mayan city, medieval Venice, and Soviet Union to build a new theory of political economy. Based on their research, they conclusively show that it is manmade political and economic institutions that underlie economic success.

They also suggest that there has been a vicious circle and virtuous circle at work in many countries over the last centuries. The virtuous circle about how institutions that encourage prosperity create positive feedback loops that prevent the efforts by elites to undermine them. On the other hand vicious circle is about how institutions that create poverty generate negative feedback loops and endure, which than led to a decent.

Korea is one of the fascinating examples to explain world inequality. The South Korea is one of the richest countries in the world, while the North Korea grapples with periodic famine and object poverty. In the South Korea, economic institutions encouraged investment and trade. South Korean politicians invested in education, achieving high rates of literacy and schooling. Meanwhile, in the north is a different regime, imposing different institutions and creating different incentives. The contrast of south and North Korea illustrates a general principle. Inclusive economic institutions foster economic activity, productivity growth and economic prosperity.

How about Botswana? As we have known, differently from almost anywhere else in sub- Saharan Africa, Botswana manage to establish a stable democracy and pluralistic institutions and choose inclusive economic institution while most African countries did the opposite. Botswana has the highest per capita income in Sub Saharan Africa, this remarkable achievement because Seretse Khama, Quett Masire who worked hard and honestly to build inclusive institution. 
Unlike Botswana, Sierra Leone and Zimbabwe are poor country because there is an elite who design economic institutions in order to enrich themselves and perpetuate their power. Extractive political institutions have created extractive economic institutions, transferring wealth and power toward the elite.

Acemoglu and Robinson also explain about economic growth of China under extractive institutions. They admit that extractive regimes can produce temporary economic growth as long as they are politically centralized. China’s economy was the bird; the party’s control, the cage, had to be enlarged to make the bird healthier and more dynamic, but it could not be unlocked or removed, lest the bird fly away. But while Chinese economic institutions are incomparably more inclusive today than three decades ago. Just as in the Soviet Union who achieved growth under extractive economic institutions and extractive political institutions because it forcibly allocated resources toward industry under a centralized command structure, particularly armaments and heavy industry. Such growth was feasible partly because there was a lot of catching up to be done. Chinese economic institutions are certainly more inclusive than those in the Soviet Union but china’s political institutions are still extractive.

In contrast with china and Soviet Union, countries such as United Kingdom and United states are wealthy because of inclusive institutions. Their citizens overthrew the elites who controlled power and created a society where political rights were much more broadly distributed, where the government was accountable and responsive to its citizens and where the great mass of people could take advantage of economic opportunities.

All of these analyses has come to conclusion that the only factor which can explain why one of these countries is poor and the other is rich because of the institutional infrastructure which has been established through the last few decades/centuries.

But how can society build inclusive institutions?

History, as we have seen, what is common among the political revolutions that successfully paved the way for more inclusive institutions and the gradual institutional changes in North America, in England in the nineteenth century, and in Botswana after independence—which also led to significant strengthening of inclusive political institutions—is that they succeeded in empowering a fairly broad cross-section of society. Pluralism, the cornerstone of inclusive political institutions, requires political power to be widely held in society, and starting from extractive institutions that vest power in a narrow elite, this requires a process of empowerment.

In the process of empowerment, we need media. Empowerment of society at large is difficult to coordinate and maintain without widespread information about whether there are economic and political abuses by those in power.

And how about our beloved country?







Sabtu, 27 Juni 2015

Seleksi MT (Management Trainee) Garuda Indonesia


Saya punya beberapa cita-cita diantaranya menjadi pendidik dan seorang traveller, karena saya  tidak boleh berangkat menjadi pengajar muda. Maka saya melakukan plan B yaitu mengambil S2 untuk menjadi dosen (sebenarnya ingin ke luar negeri tapi waktu itu belum boleh jauh-jauh dan lagian belum persiapan juga). Tapi seiring berjalannya waktu selama kuliah S2 ada beberapa pertimbangan lagi, khususnya pertimbangan financial. Jadi saat itu saya memutuskan untuk mencari pekerjaan (karena mau jadi pengusaha belum ada modal.hehehe) Mau tidak mau saya harus mengambil plan C, bekerja. Dengan bekerja setidaknya saya mandiri secara financial. Ada banyak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, jujur awalnya saya tidak ada keinginan atau passion sama sekali menjadi pegawai di sebuah perusahaan. Jadi saya mencoba mendaftar diperusahaan yang related dengan hobi saya yang suka jalan-jalan, akhirnya saya memilih perusahaan transportasi udara milik pemerintah (gaya sok-sokan milih pilih daftar dimana, padahal bisa aja kalau daftar ga diterima hahaha).
Kenapa perusahaan transportasi udara? Karena fikiran saya waktu itu adalah saya ingin mendapat benefit berupa tiket gratis untuk travelling hahaha.
Ada beberapa proses seleksi untuk menjadi MT di Garuda Indonesia
1.      Seleksi administrasi
Dengan syarat-syarat TOEFL, IPK dll
2.      Tes psychometry
Tes ini dilakukan secara online, waktu tes ini akan ditentukan oleh Garuda indonesia dan kita cukup membuka laptop dan sambungan internet kemudian menjawab beberapa test numerik, verbal dan bahasa inggris
3.      Focus group discussion dan wawancara dengan psikolog
Test FGD dan wawancara dengan psikolog dilakukan dihari yang sama di Jakarta. FGD membahas topik tertentu, (saran saya sekali lagi jadilah objective dan berani mengungkapkan argumen namun tetap mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain). Kemudian dihari yang sama kita melakukan wawancara dengan psikolog, dalam wawancara ini yang ditanyakan adalah seputar pribadi kita.
4.      Presentation and Business case analysis
Dalam test ini kita akan diberi sebuah business case yang harus kita analysis dalam waktu kurang lebih 30 menit dan juga harus kita tuangkan dalam power point yang kemudian kita presentasikan di hadapan assessor.
5.      Background check
Test ini sedikit berbeda dengan test-test diperusahaan lain. Dalam test ini perusahaan akan melihat latar belakang kita dan keluarga kita. Karena perusahaan airline rentan dengan terorisme dll, maka test ini dibutuhkan untuk memastikan bahwa calon pegawainya dan seluruh keluarganya tidak pernah terlibat atau terlibat dalam kasus kejahatan, kelompok pemberontak dan sebagainya.
6.      Final Presentation/ pantuhir (penentuan akhir)
Dalam final presentation, kita akan diberikan sebuah case study yang harus kita analysis dan presentasikan dihadapan dewan direksi, tergantung di direktorat apa kita mendaftar. Dalam proses ini ada sekitar 7-10 assessor yang merupakan pejabat dari Garuda.
7.      Briefing Contract
Proses ini adalah tahapan akhir dalam proses seleksi yang ada. Kita dan pihak perusahaan akan menandatangani kesepakatan bersama yang mengikat kedua belah pihak dalam sebuah perjanjian.
Setelah itu kita akan menjadi calon pegawai dan mengikuti pelatihan selama 1 tahun, dan setelah 1 tahun maka akan ada penilaian akhir mengenai performance kita selama proses pelatihan dan presentasi dihadapan direksi.  Setelah dinyatakan lolos, kita baru diangkat sebagai pegawai tetap.

Seleksi Pengajar Muda

Bagi teman-teman yang memiliki keninginan untuk menjadi pengajar muda, semoga postingan saya kali ini bermanfaat bagi teman-teman. Saya mendaftar pengajar muda di tahun 2013 dan dinyatakan lolos seleksi hingga tahap akhir, namun saya tidak dapat mengikuti proses karantina. sangat disayangkan sekali karena itu adalah cita-cita saya, alasan saya tidak bisa mengikuti program karantina saya ceritakan di postingan sebelumnya (http://journeyofstar.blogspot.com/2013/07/tuhan-memiliki-jawaban-lain-atas-mimpimu.html) .  Di blog ini, saya ingin sedikit berbagi mengenai proses seleksi pengajar muda, yang dibagi menjadi 4 tahap:

1. seleksi administrasi
dibagian ini teman-teman harus mengisi form aplikasi dan menjawab beberapa pertanyaan, saran saya jawab dengan jujur, salah satu contoh pertanyaannya;
Motivasi saya mengikuti indonesia mengajar adalah:
Melihat kenyataan disekitar, melihat dunia pendidikan yang ada saya yakin dengan pendidikan yang baik, maka perubahan dapat diciptakan, pendidikan adalah awal dari sebuah perubahan. Anak-anak adalah tonggak dari generasi bangsa, dari mereka kita mampu menciptakan perubahan.
Ketika saya berada di madura untuk program KKN, saya melihat banyak sekali anak-anak yang bahkan untuk bermimpi saja meraka tidak sanggup, dengan kehidupan yang serba susah disekitar mereka, mereka kehilangan harapan, kehilangan mimpi. Saya benar-benar melihat kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan yang ada dilingkungan saya sebelumnya dan  dari situ saya benar-benar memahami apa yang benar-benar ingin saya lakukan membawa lebih banyak anak-anak untuk melintasi dunia diluar lingkungan yang mereka lihat melalui sebuah cerita dan inspirasi, membuat mereka untuk berani bermimpi dan mewujdkan impiannya. Sebuah kebahagian yang tak ternilai ketika kita mampu memberi kebahagian kepada seseorang, memberikan cahaya. Karena ketika kita beberi cahaya kepada orang lain, sebenarnya kita memberi cahaya bagi diri kita sendiri seperti sebuah quote yang terkanal, Sebuah quote yang selalu menjadi inspirasi saya “ As we work to create light for others, we naturally light our own way.” 

2. Tahap ke dua dari seleksi ini adalah Direct assesment yang dilakukan dari pagi hari hingga menjelang petang, yang pasti proses ini membutuhkan stamina karena prosesnya yang cukup lama, proses ini terdiri dari:
a) Wawancara
Dalam proses ini akan dilakukan wawancara one on one dengan assessor, dimana pertanyaannya adalah mengenai pribadi kita, menegaskan kembali beberapa jawaban atas pertanyaan kita yang telah kita submit sebelumnya. dalam menjawab pertanyaan ini dianjurkan serelax mungkin dan yang pasti jawab dengan jujur
b) Psikotest
Dalam test psikotest ini sama seperti psikotest pada umumnya
c) Micro teaching
Dalam rangkain direct assesment ini, bagi saya bagian ini adalah yang paling seru dan menantang, yang pasti dalam test ini saya menemukan banyak kejutan. Hahaha. Tapi setidaknya ini menggambarkan bagaimana cara kita menghandle sebuah problem
d) Focus Group discussion
Dalam focus group discussion kita akan membahas sebuah topik, kemudian mengambil beberapa solusi/ kesimpulan. Menurut saya dalam group discussion yang harus kita utamakan adalah objectivitas dan argumen yang tepat atas sebuah kondisi. jangan pernah menyerang subjectnya jika yang bersangkutan memiliki pendapat yang berbeda dengan kita, yang jelas kita harus mampu objective dan mau mendengar tapi juga tidak perlu ragu menyampaikan argumen secara objective

3.    Setelah dinyatakan lolos direct assesmet maka proses terakhir adalah melakukan medical checkup, jangan lupa perbanyak minum air putih dan mengkonsumsi buah-buahan ya

4.    Tahap berikutnya adalah proses tandatangan kontrak,dan sebulan kemudian akan ditentukan proses pembekalan yang merupakan tahap akhir sebelum keberangkatan ke penempatan masing-masing

Mohon maaf bila ceritanya kurang lengkap, karena test ini dilakukan di tahun 2013 dan saya baru sempat menulisnya di tahun 2015, jadi agak-agak lupa hahaha. Good luck buat yang ingin mendaftar, dan jadilah inspirasi :)

Selasa, 19 November 2013

Sang Penari

Langkah-langkah gemulai  menari mengiri alam

Kekanan kekiri seirama dengan hembusan angin

Menari dibawah goresan jingga

Sewarna dengan warna hati sang pemilik langkah

Indah cantik dan mempesona